Breaking News
"Berita" adalah sajian informasi terkini yang mencakup peristiwa penting, fenomena sosial, perkembangan ekonomi, politik, teknologi, hiburan, hingga bencana alam, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Kontennya disusun berdasarkan fakta dan disampaikan secara objektif, akurat, dan dapat dipercaya sebagai sumber referensi publik.
Grab
Grab
Grabe Grabe Grabe

Mungky & Dodo Pulang ke Borneo: Kisah Haru Dua Orangutan Jantan yang Akhirnya Kembali ke Rumah”

Pulang ke Borneo: Kisah Mengharukan Mungky dan Dodo Kembali ke Tanah Kelahiran

Info Penajam- Di bawah langit malam Kalimantan yang lembap dan sunyi, terdengar suara ranting patah, desir angin, dan desah napas dua penghuni hutan yang tengah menjalani perjalanan panjang. Mereka bukan manusia, melainkan dua orangutan jantan Kalimantan (Pongo pygmaeus): Mungky dan Dodo. Setelah puluhan tahun hidup jauh dari rumah, mereka akhirnya menjejak kembali tanah Borneo—tempat di mana mereka seharusnya tumbuh, belajar, dan hidup bebas.

Mungky dan Dodo bukan sekadar satwa. Mereka adalah simbol harapan, luka, dan ketabahan. Dari status hewan peliharaan ilegal, melewati rehabilitasi panjang di pusat penyelamatan, hingga akhirnya dipulangkan ke habitat semi-liar, kisah keduanya menjadi cermin perjuangan menyelamatkan satwa liar yang nyaris kehilangan identitas alaminya.

Mungky & Dodo Pulang ke Borneo: Kisah Haru Dua Orangutan Jantan yang Akhirnya Kembali ke Rumah”
Mungky & Dodo Pulang ke Borneo: Kisah Haru Dua Orangutan Jantan yang Akhirnya Kembali ke Rumah”

Baca Juga : Penajam Paser Utara Gencarkan Imunisasi Anak, Cegah Penularan Campak


Jejak Luka dan Perjalanan Panjang

Mungky dulunya hanyalah bayi orangutan yang menggemaskan. Hidupnya berubah drastis ketika direnggut dari hutan Kalimantan dan dijadikan peliharaan di sebuah rumah di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Bertahun-tahun ia kehilangan kesempatan belajar memanjat, mencari makan, dan bertahan hidup bersama induknya. Pada 2014, Balai KSDA Kalimantan Barat menyelamatkannya dan menitipkannya ke Sintang Orangutan Center (SOC). Saat itu usianya sekitar 14 tahun.

“Secara fisik dia sehat, tapi insting liarnya hampir hilang. Itulah mengapa dia tidak bisa dilepasliarkan,” ungkap drh. Vicktor Vernandes dari SOC. Kini, di usia 24 tahun, Mungky terlihat gagah, tetapi di balik tatapannya yang tenang tersimpan rapuhnya masa lalu.

Dodo menjalani kisah yang lebih getir. Ia diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di Bogor sejak 2008 dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kandang PPS Cikananga, Jawa Barat. Insting bertahan hidupnya nyaris padam. “Secara medis ia sehat, hanya saja ia seperti lupa cara menjadi orangutan,” kata drh. Anatasha Reza Widiantoro dari Cikananga Wildlife Center. Setelah 17 tahun di Jawa, kini Dodo yang berusia 29 tahun mendapat kesempatan pulang ke tanah kelahirannya di Kalimantan.


Malam Panjang Menuju Rumah Baru

Proses pemulangan keduanya bukan perkara singkat. Pada Mei 2025, Mungky diangkut melalui jalur darat dan udara dari Sintang menuju Balikpapan. Juli 2025, giliran Dodo yang menempuh perjalanan panjang dari Sukabumi. Setiap detik perjalanan penuh ketegangan dan kehati-hatian, melibatkan dokter hewan, animal keeper, dan relawan yang mengawal kesehatan dan keselamatan mereka.

Dukungan datang dari berbagai pihak: Balai KSDA Kalimantan Timur, Otorita Ibu Kota Nusantara, Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Sintang Orangutan Center, PPS Cikananga, hingga perusahaan ekspedisi KirimAja yang menyediakan layanan logistik khusus. Semua bergerak dengan satu tujuan: memberi kesempatan kedua bagi Mungky dan Dodo agar mereka merasakan kembali kehidupan mendekati alam liar.


Pulau Kelawasan: Janji Kebebasan

Untuk saat ini, Mungky dan Dodo tinggal di Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Sepaku, Penajam Paser Utara. Mereka sedang menunggu selesainya pembangunan Pulau Kelawasan—pulau suaka orangutan di jantung Ibu Kota Nusantara.

Pulau ini dirancang sebagai rumah semi-liar bagi orangutan yang tidak lagi bisa dilepasliarkan. Hutan kecil dengan pepohonan untuk dipanjat, ruang luas untuk berinteraksi, dan udara segar tanpa jeruji. “Ketika mereka tidak bisa dilepasliarkan, paling tidak mereka bisa hidup di habitat alaminya. Tidak lagi di kandang, tapi di hutan, dengan manusia hanya sebagai penjaga kesejahteraan mereka,” jelas Ari Wibawanto, Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur.


Lebih dari Sekadar Konservasi

Kisah Mungky dan Dodo bukan hanya tentang menyelamatkan satwa liar, tetapi juga tentang manusia: rasa bersalah, cinta, dan usaha menebus kesalahan terhadap alam. S. Indrawati Djojohadikusumo, Wakil Ketua YAD, menegaskan, “Kami ingin orangutan jantan pipi lebar seperti Mungky dan Dodo bisa hidup lebih sejahtera meski tidak di alam liar sepenuhnya. Pulau Kelawasan adalah janji kami agar mereka bisa menutup usia dengan bahagia.”

Dengan memulangkan mereka, kita diingatkan bahwa konservasi tidak berhenti pada penyelamatan, tetapi berlanjut pada pemulihan martabat satwa liar—memberi mereka ruang untuk hidup sebagaimana mestinya.


Awal yang Baru

Di balik mata cokelat Mungky dan Dodo, ada kisah ribuan orangutan lain yang masih berjuang menanti kebebasan. Pulang mereka ke Borneo adalah awal dari akhir penantian panjang, sekaligus pengingat bahwa hutan bukan milik manusia semata, tetapi juga rumah bagi makhluk yang lahir darinya.

Dan kini, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Mungky dan Dodo kembali menghirup udara hutan Kalimantan. Tanah yang pernah mereka tinggalkan. Rumah sejati mereka.

tokopedia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *